PENELITIAN POTENSI RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale Rosc. var. rubrum) SEBAGAI OBAT OSTEOPOROSIS

Rabu, 13 Desember 2017

sabilarrosyad

fakultas

Dibaca: 1910 kali

Berkurangnya kepadatan tulang merupakan indikasi terjadinya osteoporosis. Studi osteoporosis dapat dilakukan dengan mengukur pengaruh pemberian suatu senyawa terhadap peningkatan kepadatan tulang tikus terovariektomi yaitu tikus yang telah diangkat ovariumnya.  Ovariektomi menyebabkan terjadinya defisiensi hormon estrogen yang juga berfungsi untuk memelihara kepadatan tulang. Senyawa yang dapat meningkatkan kepadatan tulang berpotensi sebagai obat osteoporosis.

Terapi menggunakan hormon estrogen yang biasa disebut HRT (Hormon Replacement Therapy) dilakukan untuk mengatasi gangguan akibat defisiensi estrogen. Namun, penggunaan HRT dapat menimbulkan pendarahan, ketergantungan serta kanker payudara. Oleh karena itu, diperlukan suatu alternatif yang aman dan murah sebagai pengganti HRT, salah satunya adalah obat osteoporosis berbahan aktif fitoestrogen yang merupakan senyawa dari tumbuhan yang memiliki aktivitas estrogenik.

Rimpang jahe merah mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai fitoestrogen. Flavonoid mudah larut dalam etanol sehingga senyawa ini diekstraksi menggunakan etanol. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya peningkatan kepadatan tulang tikus terovariektomi oleh pemberian ekstrak etanol rimpang jahe merah (EERJM).

Penelitian tentang potensi rimpang jahe merah sebagai obat osteoporosis telah dilakukan oleh dua dosen Fakultas Farmasi Unwahas yaitu Aqnes Budiarti dan Devi Nisa Hidayati. Penelitian dibiayai dengan dana berasal dari Kemenristekdikti melalui skema penelitian Dosen Pemula (PDP) Tahun anggaran 2017. Penelitian bersifat eksperimental terhadap tikus betina galur Wistar dengan desain penelitian posttest only controlled group design. Perlakuan diberikan selama 30 hari dan uji kepadatan tulang menggunakan metode radiografi  Dual X-Ray.Data berupa nilai kepadatan tulang dianalisis secara statistik ANOVA satu jalan dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EERJM dosis 500 dan 1000 mg/kgBB mampu meningkatkan densitas tulang tikus terovariektomi (Nesliu).

Berita Terkait

Kembali ke atas